Kalau terlalu berat untuk diakhiri, mungkin kita bisa sama-sama memulai awal yang baru di jalan yang berbeda. Aku dan kamu bisa masing-masing menyimpan bagian “kita” karena bergerak mundur untuk hilangkan jejak tidak akan mungkin.

Menyesal pernah terasa kurang tepat. Akan terasa lucu jika kita menangisi kebahagian yang lampau.
Entah di suatu hari nanti, ketika kita tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan, kita boleh memiliki kebahagiaan kita masing-masing.
Dan kita tidak perlu menunjukan siapa yang paling bahagia. Kita bisa saling memaafkan dan bersyukur, kita pernah bahagia bersama.

Tidak perlu saling bunuh sosok dalam pikiran kita. Kenangan akan mengental dan melekat serta semakin tajam. Jika harus sakit, maka sakitlah.
Biarlah sakit jadi bagian hari ini. Toh jika memang ada luka, maka ia butuh waktu untuk sembuh.
Dan jika memang meninggalkan bekas luka, tidak perlu mnjadi pahit. Toh ada lubang besar di dalam hati yang kita biarkan kosong sejenak. Ya kan?

Mungkin kemarin kita mencintai, hari ini kita saling membenci. Semoga tidak butuh waktu lama untuk saling mengikhlaskan. Kita sudah pernah melewati masa ketika diam pernah sama menyakitkan dengan hubusan pedang dan sama mematikan seperti racun.
Air mata bahkan menjadi perisai patah yang tak berfungsi.
Kau kira itu senjata? Lucu.
Lihat bagaimana kata-kata logis sialanmu melukai. Itu bukan pedang, tapi tetap menyakitkan.

Tidak, tidak. Kita tidak perlu menjadikan kenangan itu untuk membuat jurang pemisah semakin lebar dan curam antara kita.
Menanggung luka sendiri saja kita belum mampu

Made by: Ria Kurniawaty (@riiakurniawaty_)
Posted by: Inez (@inyezinyez)