Tadi siang sekitar jam setengah 12an gw ada di halte bus depan kampus rawamangun. Tanpa sadar tiba-tiba mata tertuju pada seorang bapak yang sedang duduk diatas bajajnya (red: abang bajaj). Sambil asik menghirup sepuntung rokoknya dan menunggu penumpang, dia sempatkan jari-jarinya untuk menyusun sekotak rubiks. Dia putar-putar rubiks itu agar tersusun rapi, sesekali dia diam, mungkin sedang berpikir, ya pasti berpikir.

Sekotak rubiks yang mengantar kan gw pada sebuah pikiran, bahwa hidup seperti rubiks. Semua bisa terjadi, semua punya kesempatan, semua bisa terselesaikan.

Sekotak rubiks ini kadang berada diatas, di bawah, dan disamping. Rubik yang sisi warnanya tak beraturan ini harus diselesaikan, harus dijadikan satu warna.

Pasti rubiks ini bisa kita selesain jadi sempurna lagi. Dan semua itu tergantung sama mind set, usaha dan kesabaran kita.

Kalo rubiks ini belum sepenuhnya bisa dijadiin sempurna, berarti hidup kita ga berhenti sampai disini, berarti kita masih punya banyak kesempatan dan waktu buat menyelesaikannya. Atau mungkin ada cara lain buat menyempurnakannya, setidaknya ada harapan dan usaha untuk berusaha menjadikannya sempurna.

Regards

Inez