Hey world..

Kemarin, tepatnya senin 8 februari 2010 gw masuk ke kelas 1F tempat gw magang. Di kelas itu gw melakukan observasi untuk evaluasi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas itu apakah sesuai dengan apa yang udah direncanakan.

Saat gw datang tidak ada hal-hal yang janggal bagi gw, semua tampak biasa saja seperti kelas-kelas lainnya dan anak-anak SD pada umumnya. Gw duduk dibelakang paling belakang bersama 2 anak (1 laki-laki dan 1 perempuan). Saat gw baru duduk tiba-tiba ada seorang anak laki-laki menghampiri gw. Dia berkata: ibu guru nanti ngajarin baca ga?. Gw jawab: iya nanti ya ibu ajarin sekarang kamu balik ke tempat duduk kamu dan dengerin ibu guru di depan ya. Lalu sang anak kembali duduk ke tempatnya. Beberapa saat kemudian si anak balik lagi ke tempat gw, lalu berkata (tapi gw lupa dia bilang apa, hehe..).

Hmm, sedikit menjelaskan sang anak: dia mengalami tuna netra (mata kanannya sama sekali tidak berfungsi dan mata kirinya lemah pengelihatannya) & sangat aktif sekali (gw ga bisa bilang anak ini autis atau hiperaktif).

Beberapa menit berlalu, gw perhatiin si anak memang ga bisa diem banget. Kayanya ga betah duduk diam dalam waktu yang lama. Ada ajah yang dikerjainnya, lompat dari kursinya, naik ke atas meja temennya, jalan-jalan ke tempat temennya cuma buat ngambil sesuatu apa gitu punya temennya, padahal gurunya lagi ngejelasin didepan..huh, gw ajah cape yang ngeliat apalagi gurunya ya?? >,< PR bgt kayanya !!

Well, inti dari apa yang mau gw ceritain bukan si anak laki-laki aktif itu🙂, tapi adalah anak lain yang duduk di sebelah anak laki-laki itu. Seorang anak perempuan bernama Dita🙂.

Saat gw mencoba menenangkan bocah laki-laki aktif tadi, gw duduk di sebelah Dita.  Karena gw ga tau nama bocah laki-laki itu gw pun bertanya sama Dita. Gw: siapa nama dia *bocah laki-laki aktif*?. Dita: (diam, dan mulutnya terlihat berucap sesuatu tapi gw ga jelas Dita bilang apa). Akhirnya gw nanya sama anak yang duduk di belakang Dita, ternyata si bocah laki-laki aktif tadi namanya Adi.

Gw yang masih tetap duduk bersama Dita dan Adi. Sambil gw menenangkan Adi, gw pun turut bersama Dita, menyuruh Dita untuk memperhatikan guru yang lagi ngejelasin di depan. Karena gw liat Dita asik sendiri dengan tulisan dan bacaannya (dia baca buku ejaan lalu menuliskannya kembali di buku tulis kosongnya).

Beberapa saat gw bertanya lagi sama dia (gw lupa nanya apa, pokoknya gw nanya sampe 3 atau 4 kali) dan respon dia pun sama (diam, dan mulutnya terlihat berucap sesuatu tapi gw ga jelas). Seketika itu pula gw mulai bertanya-tanya dalam hati, mulai curiga dan akhirnya gw tanya ke gurunya. Gw: bu, Dita… (gw bingung menggunakan kata apa buat bilang klo Dita tidak bisa bicara) *tanpa gw melanjutkan kalimat gw, sang ibu guru udah ngeh maksud gw apa*. Bu guru Mia: iya, Dita memang tuna rungu, tapi dia lagi belajar buat ngomong. Gw: Oh gitu, pantesan daritadi saya ajak ngomong dia diem aja, maaf ya bu.

Dan gw pun langsung sangat merasa bersalah😦. Setelah itu gw tetep duduk deket Dita, gw bantuin dia buat nulis dan mendiktekan dia tulisan yang ada di papan tulis. Butuh waktu hampir 20-30 menit untuk nulis 3 baris kalimat yang masing-masing kalimat terdiri dari 4-5 kata. FYI: jarang pandang dia juga agak tergangggu, sekitar (hmm gw ga tau sekitar berapa meter, paling ga bisa gw memperkirakan jarak :p, yang jelas sangat dekat).

Ya.ya.ya jujur ya, gw agak-agak sedih ngeliat Dita. Dan jujur juga, gw cape loh mendiktekan dia dan ngajarin dia ngitung. Tapi gw mikir lagi, apa dia TIDAK lebih cape dari gw?. Dia cape saat ingin mengukapkan sesuatu, ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya tak bisa terbuka, suaranya tidak begitu terdengar. Dia akan LEBIH cape secara psikologis dan psikis😦.

Oh Dita, wish god give you a strange, wish god give you a bunch of miracle and keep smile, keep tough Dita🙂 and also to adi🙂 wish u luck kids :*

Regards

Inez :*